Menu Bawah

Prabowo Minta Kapolri Tingkatkan Pangkat Polisi yang Latih Atlet, Jangan Pelit!

Rabu, 09 September 2026, 18:00 WIB Last Updated 2026-09-10T11:32:01Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini

Info Indo - Presiden Prabowo Subianto meminta Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberikan penghargaan yang layak kepada anggota Polri yang berprestasi maupun berkontribusi dalam pembinaan olahraga. Pernyataan tersebut disampaikan ketika Prabowo melepas kontingen Indonesia menuju Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Istana Negara, Jakarta, Rabu (9/9/2026).


Presiden Prabowo saat melepas kontingen Indonesia menuju Asian Games 2026
Presiden Prabowo Subianto saat melepas kontingen Indonesia menuju Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Istana Negara, Jakarta, Rabu (9/9/2026). Foto: BPMI Setpres/Muchlis Jr.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menyinggung pentingnya memberikan penghormatan kepada atlet dan pelatih yang telah berkorban untuk mengharumkan nama Indonesia. Ia mengatakan percepatan karier juga perlu diberikan kepada mereka yang berprestasi, termasuk anggota TNI dan Polri yang berkiprah di bidang olahraga.


“Naikkan pangkatlah. Kita jangan pelit. Kalau baik, kita memberi penghormatan,” kata Prabowo saat menceritakan komunikasinya dengan Kapolri terkait anggota Polri yang berprestasi. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara pelepasan kontingen Asian Games 2026.


Pesan tersebut bukan hanya soal kenaikan pangkat. Lebih jauh, arahan itu menyoroti bagaimana institusi negara dapat memberikan ruang, penghargaan, fasilitas, dan kepastian karier bagi anggota kepolisian yang ikut membina atlet.


Prabowo Soroti Peran Polisi dalam Pembinaan Atlet

Presiden Prabowo mengatakan atlet dan pelatih yang berprestasi telah memberikan kontribusi bagi bangsa. Karena itu, penghargaan tidak seharusnya hanya diberikan dalam bentuk bonus setelah pertandingan, tetapi juga dapat diwujudkan melalui pengembangan karier bagi atlet dan pelatih yang berstatus anggota TNI maupun Polri.


Prabowo menyebut ada anggota Polri berpangkat AKBP dari kalangan polisi wanita yang menjadi salah satu contoh yang ia soroti kepada Kapolri. Ia kemudian meminta agar prestasi dan pengabdian tersebut tidak dilupakan dalam perjalanan karier personel.


Dalam pidatonya, Prabowo juga menyinggung pentingnya mengubah kebiasaan organisasi yang terkadang lebih mudah mengingat kesalahan dibandingkan prestasi. Menurutnya, kebaikan dan keberhasilan harus mendapatkan penghargaan.


Mengapa Dukungan Polri Penting bagi Atlet?

Dunia olahraga membutuhkan pembinaan jangka panjang. Atlet tidak hanya membutuhkan latihan, tetapi juga pelatih berkualitas, fasilitas, kompetisi, dukungan finansial, pemulihan fisik, serta lingkungan yang memungkinkan mereka berkonsentrasi mengejar prestasi.


Di sinilah institusi seperti Polri dapat memainkan peran strategis. Anggota Polri yang memiliki latar belakang atlet atau kemampuan kepelatihan dapat menjadi bagian dari ekosistem pembinaan tanpa harus meninggalkan sepenuhnya tugas pengabdian mereka.


Polri sendiri menyatakan memiliki lebih dari 30 cabang olahraga binaan. Pekan Olahraga Polri juga diarahkan sebagai salah satu jalur pembinaan menuju kompetisi yang lebih tinggi, mulai dari tingkat nasional hingga SEA Games, Asian Games, kejuaraan dunia, dan Olimpiade.


Menurut data yang disampaikan Polri pada 2026, atlet Polri meraih 50 medali di World Police and Fire Games 2025, terdiri dari 23 emas, 11 perak, dan 16 perunggu. Pada SEA Games 2025, atlet Polri juga meraih 30 medali, yakni 5 emas, 15 perak, dan 10 perunggu.


Contoh Nyata: Polisi yang Melatih Atlet Voli di Pamekasan

Salah satu contoh kontribusi anggota polisi dalam pembinaan olahraga dapat dilihat dari kisah Aiptu Dendi Riharto, anggota Polres Pamekasan yang juga menjadi pelatih bola voli dan voli pantai.


Dendi sebelumnya merupakan atlet voli. Ia pernah memperkuat Pamekasan dan meraih posisi runner-up pada kejuaraan voli pantai tingkat Asia-Pasifik di Bali pada 1997. Setelah pensiun sebagai atlet pada 2007, ia melanjutkan pendidikan kepelatihan dan kemudian aktif membina atlet.


Perjalanan Dendi menunjukkan bahwa pengalaman seorang anggota polisi dapat memberikan manfaat yang lebih luas ketika kemampuan tersebut diterapkan untuk pembinaan generasi muda.


Para atlet yang dibinanya tidak hanya tampil di tingkat daerah. Sejumlah anak didiknya mampu menembus kompetisi tingkat provinsi dan nasional, bahkan beberapa di antaranya pernah berkarier di liga voli nasional.


Suara Mantan Atlet yang Pernah Dibina Polisi

Dalam laporan detikcom mengenai Aiptu Dendi, Ardhie Raditya, yang pernah menjadi anak didiknya, menceritakan bagaimana sosok tersebut dikenal di lingkungan voli Madura. Ardhie menyebut banyak anak didik Dendi yang berprestasi dalam olahraga maupun pendidikan.


Ardhie juga menjelaskan bahwa anak didik Dendi berasal dari banyak generasi. Menurutnya, pembinaan tersebut telah berlangsung sejak 1990-an dan terus berlanjut hingga generasi berikutnya.


“Anak-anak didiknya banyak yang berprestasi baik dalam bidang olahraga ataupun pendidikan,” ujar Ardhie dalam laporan tersebut.


Ardhie juga menyebut sejumlah atlet yang pernah dibina Dendi mampu menembus kompetisi tingkat provinsi hingga nasional. Beberapa di antaranya bahkan kemudian melanjutkan karier di institusi TNI.


Kesaksian tersebut memperlihatkan bahwa peran polisi dalam olahraga tidak selalu berupa pembinaan atlet Polri. Dalam kasus tertentu, anggota polisi juga dapat menjadi pelatih dan mentor bagi masyarakat.


Peran Pelatih Polisi Bukan Sekadar Mengajarkan Teknik

Seorang polisi yang menjadi pelatih memiliki potensi untuk membawa nilai disiplin, ketekunan, tanggung jawab, dan ketahanan mental ke dalam proses latihan.


Dalam kasus Dendi, pendekatan pembinaan juga mencakup pembentukan karakter. Ia mendorong anak-anak didiknya untuk menjauhi narkoba dan menjalankan kegiatan yang positif di luar olahraga.


Nilai-nilai seperti ini penting karena atlet muda tidak hanya dipersiapkan untuk memenangkan pertandingan. Mereka juga perlu dibentuk menjadi individu yang mampu menghadapi tekanan, menjaga perilaku, serta memiliki tujuan hidup setelah karier olahraga berakhir.


Infografis: Prestasi Atlet yang Mendapat Dukungan Polri

Berikut gambaran statistik prestasi yang dapat menunjukkan besarnya ekosistem olahraga di lingkungan Polri. Angka di bawah berasal dari laporan resmi dan pemberitaan terkait prestasi atlet Polri.

INFOGRAFIS PRESTASI OLAHRAGA POLRI

SEA Games 2025

🥇 5 emas   |   🥈 15 perak   |   🥉 10 perunggu

Total: 30 medali


World Police and Fire Games 2025

🥇 23 emas   |   🥈 11 perak   |   🥉 16 perunggu

Total: 50 medali


PON XXI Aceh-Sumut 2024

🥇 36 emas   |   🥈 42 perak   |   🥉 20 perunggu

Total: 98 medali

Catatan infografis: angka di atas menunjukkan capaian medali atlet/personel Polri pada ajang yang disebutkan, bukan persentase keberhasilan seluruh atlet yang mendapat dukungan polisi. Data tersebut tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan hubungan sebab-akibat antara dukungan Polri dan perolehan medali.


Bagaimana Kenaikan Pangkat Bisa Memotivasi Pelatih Polisi?

Kenaikan pangkat merupakan salah satu bentuk penghargaan formal dalam institusi kepolisian. Ketika personel melihat bahwa kontribusi di bidang olahraga dapat diperhitungkan secara transparan dalam karier, hal tersebut berpotensi membuat pembinaan olahraga menjadi aktivitas yang lebih dihargai.


Namun, kenaikan pangkat tidak seharusnya diberikan semata-mata karena seseorang menjadi pelatih. Penghargaan perlu tetap berdasarkan prestasi, dedikasi, rekam jejak, kinerja, serta ketentuan organisasi yang berlaku.


Yang menjadi penting dari pesan Prabowo adalah adanya sinyal bahwa prestasi olahraga dapat menjadi bagian dari penghargaan atas pengabdian personel. Jika diterapkan secara objektif, sistem seperti ini dapat menciptakan insentif bagi anggota yang memiliki kompetensi olahraga untuk terus mengembangkan bakat dan membantu pembinaan atlet.


Data Penghargaan Kapolri Menunjukkan Pola Apresiasi

Pada SEA Games 2025, Polri memberikan berbagai bentuk penghargaan kepada atlet dan ofisial/pelatih dari lingkungan kepolisian. Tercatat 12 personel mendapat pendidikan SIP, 9 personel memperoleh kenaikan pangkat luar biasa, 10 personel mendapat promosi jabatan, dan 7 personel memperoleh Pin Emas Kapolri.


Selain itu, atlet non-Polri yang berprestasi juga memperoleh sejumlah jalur penghargaan dan rekrutmen melalui Polri. Data tersebut menunjukkan bahwa penghargaan dapat dirancang dalam beberapa bentuk, bukan hanya berupa kenaikan pangkat.

INFOGRAFIS PENGHARGAAN ATLET/PERSONEL POLRI

  • 12 personel mendapat pendidikan SIP
  • 9 personel mendapat kenaikan pangkat luar biasa
  • 10 personel mendapat promosi jabatan
  • 7 personel mendapat Pin Emas Kapolri

Data penghargaan terkait atlet/ofisial Polri berprestasi pada SEA Games 2025.

Dukungan Polisi Bisa Membuka Jalan bagi Atlet Muda

Peran polisi dalam olahraga juga dapat dilakukan melalui penyelenggaraan kompetisi. Polri menggelar berbagai kejuaraan seperti Kapolri Cup dan Pekan Olahraga Polri yang melibatkan atlet dari lingkungan kepolisian maupun masyarakat.


Pada 2026, Kapolri Cup dan Pekan Olahraga Polri diarahkan bukan hanya sebagai kompetisi internal, tetapi juga sebagai sarana pencarian bibit atlet potensial dan regenerasi. Polri menyebut jalur pembinaan tersebut diharapkan dapat mengantar atlet menuju level nasional dan internasional.


Model seperti ini penting karena banyak atlet muda membutuhkan panggung kompetisi sebelum mampu masuk ke tingkat nasional. Kompetisi yang terstruktur dapat membantu mereka mengukur kemampuan sekaligus menemukan kekurangan yang perlu diperbaiki.


Kapolri Cup dan Potensi Mencetak Atlet Baru

Selain menjadi ajang kompetisi, Kapolri Cup dapat berfungsi sebagai ruang pertemuan antara atlet, pelatih, pengurus olahraga, dan institusi.


Dalam Kejurnas Taekwondo Kapolri Cup 2026, Polri menyatakan kejuaraan tersebut bertujuan meningkatkan prestasi atlet, mencari bibit potensial, mendorong regenerasi, serta membangun sportivitas dan disiplin. Pesertanya berasal dari unsur Polri maupun masyarakat umum.


Artinya, dukungan institusi kepolisian dapat memberikan dampak lebih luas apabila kompetisi tersebut benar-benar terhubung dengan sistem pembinaan nasional dan tidak berhenti sebagai agenda seremonial.


Tantangan yang Masih Harus Diperhatikan

Dukungan terhadap atlet tidak cukup hanya melalui penghargaan. Kasus Aiptu Dendi juga menunjukkan bahwa persoalan fasilitas latihan dan pembiayaan masih menjadi tantangan di tingkat daerah.


Dalam laporan mengenai Dendi, fasilitas latihan voli pantai di Pamekasan sempat menghadapi persoalan setelah tempat latihan sebelumnya tidak lagi dapat digunakan. Dendi bahkan menceritakan adanya kondisi ketika kebutuhan latihan harus ditopang menggunakan dana pribadi.


Situasi tersebut menunjukkan bahwa penghargaan kepada pelatih harus berjalan beriringan dengan fasilitas, anggaran, jadwal latihan, perlindungan karier, dan dukungan teknis.


Bukan Hanya Pangkat, tetapi Ekosistem Pembinaan

Pesan Prabowo mengenai kenaikan pangkat sebaiknya dilihat sebagai bagian dari pembicaraan yang lebih luas mengenai ekosistem olahraga.


Seorang pelatih polisi yang berprestasi membutuhkan kepastian bahwa aktivitas pembinaan tidak mengganggu tugas kedinasan. Sebaliknya, institusi juga perlu memiliki mekanisme yang jelas agar personel dapat menjalankan tugas olahraga secara profesional tanpa mengurangi tanggung jawab utama sebagai anggota Polri.


Karena itu, beberapa hal yang dapat diperkuat antara lain program pembinaan atlet, sertifikasi pelatih, fasilitas olahraga, kompetisi berjenjang, dukungan pemulihan atlet, penghargaan berbasis prestasi, serta jalur karier yang transparan.


Polisi dan Atlet: Dua Bentuk Pengabdian untuk Indonesia

Atlet yang bertanding membawa nama Indonesia di arena internasional menjalankan bentuk pengabdian melalui prestasi. Polisi menjalankan pengabdian melalui tugas menjaga keamanan dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.


Ketika seorang anggota Polri menjadi pelatih, kedua bentuk pengabdian tersebut dapat bertemu. Ia tetap menjadi bagian dari institusi, tetapi pada saat yang sama membantu generasi muda mengembangkan kemampuan olahraga.


Inilah alasan dukungan terhadap polisi yang menjadi pelatih atlet memiliki nilai strategis. Prestasi seorang atlet bukan hanya hasil kerja atlet itu sendiri, tetapi juga buah dari kerja pelatih, keluarga, fasilitas, pengurus olahraga, dan berbagai pihak yang berada di belakangnya.


Harapan Setelah Pesan Prabowo

Permintaan Prabowo agar prestasi tidak pelit dihargai dapat menjadi momentum untuk memperkuat sistem penghargaan terhadap atlet dan pelatih di lingkungan institusi negara.


Jika diterapkan dengan ukuran yang jelas dan adil, penghargaan tersebut dapat memberikan kepastian kepada anggota Polri bahwa kontribusi di bidang olahraga juga mendapatkan perhatian.


Pada saat yang sama, sistem penghargaan perlu memastikan bahwa kenaikan pangkat tetap mengikuti prosedur dan penilaian yang objektif. Dengan demikian, penghargaan tidak hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar menjadi bagian dari pembinaan sumber daya manusia.


Kesimpulan

Presiden Prabowo Subianto meminta Kapolri meningkatkan penghargaan bagi atlet dan pelatih berprestasi, termasuk anggota Polri yang berkontribusi dalam dunia olahraga. Pesan “jangan pelit” yang disampaikan Prabowo menekankan pentingnya menghargai orang-orang yang telah memberikan prestasi dan pengabdian untuk bangsa.


Dukungan Polri terhadap olahraga sebenarnya telah memiliki sejumlah bukti, mulai dari pembinaan lebih dari 30 cabang olahraga, Pekan Olahraga Polri, berbagai Kapolri Cup, hingga penghargaan kepada atlet yang meraih prestasi internasional.


Kisah Aiptu Dendi Riharto juga menunjukkan bahwa anggota polisi dapat berperan langsung sebagai pelatih dan mentor bagi atlet masyarakat. Anak didiknya mampu mencapai kompetisi tingkat provinsi dan nasional, bahkan sebagian pernah berkarier di liga voli nasional.


Namun, pengembangan olahraga tidak boleh hanya bergantung pada kenaikan pangkat. Fasilitas, pembiayaan, kompetisi, pelatihan pelatih, perlindungan karier, dan sistem pembinaan berkelanjutan tetap menjadi bagian penting untuk melahirkan atlet Indonesia yang mampu bersaing di tingkat dunia.


Pada akhirnya, penghargaan yang tepat kepada atlet dan pelatih bukan hanya soal memberikan imbalan atas prestasi yang sudah terjadi. Penghargaan juga dapat menjadi pesan kepada generasi berikutnya bahwa kerja keras, disiplin, dan pengabdian untuk bangsa tidak akan dilupakan.


Catatan: Artikel ini menggunakan data prestasi dan pernyataan yang telah diberitakan atau dipublikasikan oleh sumber terkait. Bagian “wawancara” merujuk pada pernyataan atlet/mantan anak didik yang telah dimuat dalam pemberitaan sebelumnya, bukan wawancara baru yang dilakukan oleh Info Indo. Statistik infografis tidak dimaksudkan sebagai penelitian kausal mengenai hubungan antara dukungan Polri dan keberhasilan atlet.

Komentar

Tampilkan

Terkini